Kamis, 29 Desember 2011

Black Holes


Black holes: What are they?

Black holes are the evolutionary endpoints of stars at least 10 to 15 times as massive as the Sun. If a star that massive or larger undergoes a supernovaexplosion, it may leave behind a fairly massive burned-out stellar remnant. With no outward forces to oppose gravitational forces, the remnant will collapse in on itself. The star eventually collapses to the point of zero volume and infinitedensity, creating what is known as a "singularity." Around the singularity is a region where the force of gravity is so strong that not even light can escape. Thus, no information can reach us from this region. It is therefore called a black hole, and its surface is called the "event horizon."
But contrary to popular myth, a black hole is not a cosmic vacuum cleaner. If our Sun was suddenly replaced with a black hole of the same mass, Earth's orbit around the Sun would be unchanged. Of course, Earth's temperature would change, and there would be no solar wind or solar magnetic storms affecting us. To be "sucked" into a black hole, one has to cross inside the Schwarzschild radius. At this radius, the escape speed is equal to the speed of light, and once light passes through, even it cannot escape.
The Schwarzschild radius can be calculated using the equation for escape speed:
vesc = (2GM/R)1/2
For photons, or objects with no mass, we can substitute c (the speed of light) for Vesc and find the Schwarzschild radius, R, to be
R = 2GM/c2
If the Sun was replaced with a black hole that had the same mass as the Sun, the Schwarzschild radius would be 3 km (compared to the Sun's radius of nearly 700,000 km). Hence the Earth would have to get very close to get sucked into a black hole at the center of our Solar System.

If we can't see them, how do we know they are there?

Since stellar black holes are small (only a few to a few tens of kilometers in diameter), and light that would allow us to see them cannot escape, a black hole floating alone in space would be hard, if not impossible, to see in the visual spectrum.
However, if a black hole passes through a cloud of interstellar matter, or is close to another "normal" star, the black hole can accrete matter into itself. As the matter falls or is pulled towards the black hole, it gains kinetic energy, heats up and is squeezed by tidal forces. The heating ionizes the atoms, and when the atoms reach a few million Kelvin, they emit X-rays. The X-rays are sent off into space before the matter crosses the Schwarzschild radius and crashes into thesingularity. Thus we can see this X-ray emission.
HDE 226868
The optical companion of
the black hole candidate Cygnus X-1
Binary X-ray sources are also places to find strong black hole candidates. A companion star is a perfect source of infalling material for a black hole. A binary system also allows the calculation of the black hole candidate's mass. Once the mass is found, it can be determined if the candidate is a neutron star or a black hole, since neutron stars always have masses of about 1.5 times the mass of the Sun. Another sign of the presence of a black hole is its random variation of emitted X-rays. The infalling matter that emits X-rays does not fall into the black hole at a steady rate, but rather more sporadically, which causes an observable variation in X-ray intensity. Additionally, if the X-ray source is in a binary system, and we see it from certain angles, the X-rays will be periodically cut off as the source is eclipsed by the companion star. When looking for black hole candidates, all these things are taken into account. Many X-ray satellites have scanned the skies for X-ray sources that might be black hole candidates.
Cygnus X-1 (Cyg X-1) is the longest known of the black hole candidates. It is a highly variable and irregular source, with X-ray emission that flickers in hundredths of a second. An object cannot flicker faster than the time required for light to travel across the object. In a hundredth of a second, light travels 3,000 kilometers. This is one fourth of Earth's diameter. So the region emitting the X-rays around Cyg X-1 is rather small. Its companion star, HDE 226868 is a B0 supergiant with a surface temperature of about 31,000 K. Spectroscopicobservations show that the spectral lines of HDE 226868 oscillate with a period of 5.6 days. From the mass-luminosity relation, the mass of this supergiant is calculated as 30 times the mass of the Sun. Cyg X-1 must have a mass of about 7 solar masses, or it would not exert enough gravitational pull to cause the wobble in the spectral lines of HDE 226868. Other estimate put the mass of Cyg X-1 to as much as 16 solar masses. Since 7 solar masses is too large to be awhite dwarf or neutron star, it must be a black hole.
Diagram of Cygnus X-1 system
An illustration of Cygnus X-1, showing the companion star HDE 226868,
the black hole, material streaming from the companion to the black hole,
and the emission of X-rays near the black hole.
There are now about 20 X-ray binaries (as of early 2009) with known black holes (from measurements of the black hole mass). The first of these, an X-ray transient called A0620-00, was discovered in 1975, and the mass of the compact object was determined in the mid-1980's to be greater than 3.5 solar masses. This very clearly excludes a neutron star, which has a mass near 1.5 solar masses, even allowing for all known theoretical uncertainties. The best case for a black hole is probably V404 Cygni, whose compact star is at least 10 solar masses. There are an additional 20 X-ray binaries which are likely to contain black holes - their behavior is the same as the confirmed black holes, but mass measurements have not been possible.

i got the image of black hole .. Like this : 

The Mary Celeste



Mary Celeste, sebuah kapal dagang yang ditemukan tak berawak dan terapung-apung di Samudera Atlantik pada tahun 1872. Hal yang paling mengerikan adalah ketika ditemukan kapal ini mengapung begitu saja dilautan tanpa ditemukan satupun awak, padahal saat berangkat kapal ini membawa setidaknya 80an awak, temuan lain menyebutkan kapal ini berada pada kondisi yang sangat amat baik, tak ada kerusakan di dalam kapal bahkan layar kapalpun masih mengembang tanpa robek, cerita menakutkan lainya dari kapal The Mary Celeste adalah posisi barang-barang didalam kapal masih berada pada tempatnya.
Jika kapal ini dibajak kemungkinan barang-barang berharga pastilah akan menghilang dan setidaknya mungkin ada perlawanan yang bisa menimbulkan kerusakan namun semua itu tidak ditemukan di kapal ini. Kru kapal ini bagai menghilang begitu saja secara misterius. beberapa teori gila tentang kapal ini pun mulai muncul dari secara tidak sengaja memasuki perairan segitiga bermuda sampai diculik Alien. Namun semua itu tentang The Mary Celeste akan tetap menjadi misteri hingga kini.

The Lady Lovibond


Lady Lovibond adalah sebuah kapal yang digunakan sepasang pengantin baru untuk melakukan bulan madu, pada waktu bersamaan bebeberapa kru juga di ikut sertakan dalam kapal itu, salah satunya mantan pacar si istri yang tidak diketahui oleh si suami yang bernama Simon Peel, dari Informasi yang didapatkan, mantan pacar si istri merasa dendam lalu membunuh pasangan pengantin itu dan semua kru dengan belati, dan ia sendiri menabrakan kapal tersebut ke gugusan karang hingga tenggelam 13 Februari 1748. Cerita keangkeran laut itupun masih ada hingga sekarang, laporan terakhir dari para nelayan yang pernah melihat kapal tersebut di tahun 1998 ketika melintasi gugusan karang ditempat kapal tersebut tenggelam.

The Joyita


Ditahun 1955 ketika kapal nelayan ini ditemukan setelah lima minggu terapung-apung, tak satupun dari 25 awak kapal tersebut di temukan, para tim SAR hanya menemukan kerusakan yang diduga sekelompok bajak laut telah menyerang kapal ini. Dari hasil penyeledikan pula ditemukan beberapa ceceran darah di dek kapal, diduga para pembajak membunuh semua kru kapal dan melemparnya ke laut.

The Octavius



The Octavius merupakan kapal penangkap ikan paus, tak ada tanda-tanda kehidupan di Kapal tersebut hingga seorang kru kapal Herald memberanikan diri untuk menaiki kapal tersebut setelah menemukannya pada tahun 1775 di laut Arktik secara tidak sengaja.
Secara mengejutkan kru tersebut menemukan puluhan mayat kru kapal The Octavius tergeletak membeku, diduga kru-kru tersebut mati kedinginan setelah lama tersesat di laut Arktik dan kehabisan bekal. Yang paling mencengangkan ternyata Kapal The Octavius telah dilaporkan hilang 13 Tahun yang lalu, jadi selama jeda waktu tersebut. Kapal tersebut hanya terombang-ambing di lautan, setelah penemuan kapal tersebut hingga kini tersiar kabar banyak kapal-kapal penangkap ikan melihat penampakan The Octavius di Lautan Arktik, ketika didekati kapal tersebut mendadak menghilang di dalam kabut.

Legenda Kapal Hantu Flying Dutchman.

Kisah Kapal Hantu Flying Dutchman ini merupakan salah satu kisah yang sangat terkenal dan telah melegenda di seluruh dunia . Sudah banyak buku ditulis dengan mengangkat cerita legenda ini, bahkan dalam film Pirates of the Caribbean: Dead Man’s Chest (2006) dan Pirates of the Caribbean: At World’s End (2007) kapal hantu ini juga ikut dimunculkan.
Tapi, entah nyata atau tidaknya kisah ini aku juga belum tahu, atau mungkin masih sama dengan legenda-legenda lainnya yang dianggap hanya sebatas cerita karang/dongeng turun-temurun.
Menurut cerita rakyat, The Flying Dutchman adalah kapal hantu yang tidak akan pernah bisa berlabuh, tetapi harus mengarungi “tujuh lautan” selamanya. Flying Dutchman selalu terlihat dari kejauhan, kadang-kadang disinari dengan sorot cahaya redup. Banyak versi dari cerita ini. Menurut beberapa sumber, Legenda ini berasal dari Belanda, sementara itu yang lain meng-claim bahwa itu berasal dari sandiwara Inggris The Flying Dutchman (1826) oleh Edward Fitzball dan novel “The Phantom Ship” (1837) oleh Frederick Marryat, kemudian di adaptasi ke cerita Belanda “Het Vliegend Schip” (The Flying Ship) oleh pastor Belanda A.H.C. Römer. Versi lainnya termasuk opera oleh Richard Wagner (1841) dan “The Flying Dutchman on Tappan Sea” oleh Washington Irving (1855).
Beberapa sumber terpercaya menyebutkan bahwa pada abad 17 seorang kapten Belanda bernama Bernard Fokke (versi lain menyebut kapten “Ramhout Van Dam” atau “Van der Decken”) mengarungi lautan dari Holland ke pulau Jawa dengan kecepatan luar biasa. Ia dicurigai meminta bantuan iblis untuk mencapai kecepatan tadi. Namun ditengah pelayarannya menuju Cape of God Hope tiba-tiba cuaca buruk, sehingga kapal oleng. Lalu seorang awak kapal meminta supaya pelayaran dihentikan . Tetapi sang kapten tidak mau, lalu dia berkata “aku bersumpah tidak akan mundur dan akan terus menembus badai untuk mencapai kota tujuanku, atau aku beserta semua awak kapalku akan terkutuk selamanya” Tiba -tiba badai menghantam kapal itu sehingga mereka kalah melawan alam. Dan terkutuklah selama-lamanya Sang Kapten bersama para anak kapalnya itu menjadi jasad hidup dan berlayar di tujuh lautan untuk selama-lamanya. Konon, Kapal tersebut dikutuk untuk melayari 7 samudera sampai akhir zaman. lalu cerita itu menyebar sangat cepat ke seluruh dunia.
Sumber lain juga menyebutkan munculnya penyakit berbahaya di kalangan awak kapal sehingga mereka tidak diijinkan untuk berlabuh dipelabuhan manapun . Sejak itu, kapal dan awaknya dihukum untuk selalu berlayar, tidak pernah berlabuh/menepi. Menurut beberapa versi, ini terjadi pada tahun 1641, yang lain menebak tahun 1680 atau 1729. Terneuzen (Belanda) disebut sebagai rumah sang legenda Flying Dutchman, Van der Decken, seorang kapten yang mengutuk Tuhan dan telah dihukum untuk mengarungi lautan selamanya, telah diceritakan dalam novel karya Frederick Marryat – The Phantom Ship dan Richard Wagner opera. Banyak saksi yang mengaku telah melihat kapal hantu ini. Pada tahun 1939 kapal ini terlihat di Mulkzenberg. Pada tahun 1941 seklompok orang di pantai Glencairn menyaksikan kapal berlayar yang tiba – tiba lenyap ketika akan menubruk batu karang. Penampakan The Flying Dutchman kembali terlihat oleh awak kapal laut militer M.H.S Jubilee di dekat Cape Town di bulan agustus 1942. Bahkan ada suatu catatan kisah tentang pelayaran Christoper Columbus, waktu itu awak kapal Columbus melihat kapal terkatung katung dengan layar mengembang. setelah itu awak yang pertama melihat langsung tewas seketika.
Mitos ahir-ahir ini juga mengisahkan apabila suatu kapal modern melihat kapal hantu ini dan awak kapal modern memberi signal, maka kapal modern itu akan tenggelam / celaka. Bagi seorang pelaut, pertemuan yang tak diduga dengan kapal hantu The Flying Dutchman akan mendatangkan bahaya bagi mereka dan konon, ada suatu cara untuk mengelak dari kemungkinan berpapasan dengan kapal hantu tersebut, yakni dengan memasangkan tapal kuda di tiang layar kapal mereka sebagai perlindungan. Selama berabad – abad, legenda The Flying Dutchman menjadi sumber inspirasi para sastrawan dan novelis. Sejak tahun 1826 Edward Fitzball telah menulis novel The Pantom Ship (1837) yang diangkat dari pengalaman bertemu dengan kapal seram ini. Banyak pujangga terkenal seperti Washington Irving dan Sir Walter Scott juga tertarik mengangkat legenda ini.